KULIAH PUBLIK: Inilah Making Indonesia 4.0.Menghadapi Revolusi Industri Generasi Ke-4

SOSIAL MEDIA

PIKIRKAN YANG BAIK ~ o ~ LAKUKAN YANG TERBAIK ~ o ~ Ini Kuliah MetodeCHAT ~ o ~ Cepat_Hemat_Akrab_Terpadu ~ o ~ Silahkan Membaca dan Berkomentar

Ketahui Bagaimana Kondisi Ekonomi dan Bisnis Anda Terkini

  Baru-baru ini, pemerintah telah mulai melonggarkan mobilitas seiring menurunnya kasus covid-19. Sementara pada Juli hingga awal Agustus ek...

Tuesday, July 24, 2018

Inilah Making Indonesia 4.0.Menghadapi Revolusi Industri Generasi Ke-4


Sektor Unggulan

Presiden Joko Widodo telah meresmikan peluncuran peta jalan atau roadmap industri 4.0. yang disebut Making Indonesia 4.0. Lewat peta jalan tersebut, pemerintah akan mendorong pembangunan industri manufaktur untuk bisa berdaya saing global melalui percepatan implementasi Industri generasi ke-empat atau 4.0. Peta jalan itu akan menjadi tuntunan strategi pengembangan industri Indonesia dalam memasuki era digital yang sedang berjalan. Konsep revolusi industri 4.0 pertama kali diperkenalkan oleh Profesor Klaus Schwab, Ekonom terkenal asal Jerman, dalam bukunya, The Fourth Industrial Revolution bahwa konsep itu telah mengubah hidup dan kerja manusia.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartato di JCC Senayan, Jakarta, (Rabu, 4/4/2018) menjelaskan apa yang dimaksud dengan revolusi industri 4.0 serta tujuan dari adanya industri tersebut. Di balik hadirnya Industri 4.0 tersebut, sejatinya revolusi industri ini dimulai sejak zaman pemerintahan Hindia-Belanda. Saat itu, revolusi industri pertama hadir dalam konteks steam engine atau mesin uap. Kemudian revolusi industri kedua pada saat otomotif general fort mebuat line production Indonesia masih hinda-Belanda. Revolusi industri ketiga diawali di tahun 90-an itu dengan mulai otomatisasi dan pada watu itu terjadi globalisasi.

Industri nasional membutuhkan konektivitas serta interaksi melalui teknologi, informasi dan komunikasi yang terintegrasi dan dapat dimanfaatkan. Hal itu untuk bisa mencapai efisiensi dan peningkatan kualitas produk. Roadmap yang dinamakan Making Indonesia 4.0 itu, bakal memberikan suatu arah yang jelas bagi pergerakan industri nasional di masa depan, termasuk fokus pada pengembangan Iima sektor manufaktur yang akan menjadi percontohan. Penyusunan peta jalan ini telah melibatkan berbagai pemangku kepentingan, muIai dari institusi pemerintah, asosiasi industri, pelaku usaha, penyedia teknologi, maupun lembaga riset dan pendldikan.

Untuk penerapan awal Industri 4.0, Indonesia akan berfokus pada Iima sektor manufaktur, yaitu industri makanan dan minuman, industri tekstil dan pakaian, industri otomotif, industri kimia, serta industri elektonik. Sektor ini dipilih setelah melalui evaluasi dampak ekonomi dan kriteria kelayakan Implementasi yang mencakup ukuran PDB, perdagangan, potensi dampak terhadap industri Iain, besaran investasi, dan kecepatan penetrasi pasar. Dengan adanya komitmen serta partisipasi aktif dari seluruh pihak tersebut, implementasi Industri 4.0 di Indonesia bisa berjalan sukses dan sesuai sasaran. Dengan implementasi roadmap tersebut, kata Airlangga, diharapkan dapat mendorong pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) hingga 2% pertahun. Bila demikian, maka industri manufaktur akan berkontribusi sebesar 21-26% terhadap PDB pada tahun 2030.

Pada saat itu, globalisasi yang dikhawatirkan adalah lahirnya digitalisasi. Dalam rapat APEC tahun 90-an, disebutkan bahwa globalisasi untuk ASEAN bakal dimulai di tahun 2020. Saat ini yang namanya revolusi industri ke 4 dimulai dengan revolusi internet yang dimulai pada tahun 90-an. Tahun 90-an belum tahu kalau internet efeknya akan seperti hari ini. Hari ini seluruh negara di dunia baru melihat apa efek dari Internet of things.

Pemanfaatan Internet of things ini pertama kali dilakukan oleh Jerman. Jerman pula lah yang mengglobalkan istilah industri 4.0. Jadi industri 4.0 mengikat kepada industri di Jerman, Presiden melihat berkali-kali bahwa kita harus punya roadmap ke sana. Setelah pertemuan G20 di China, Presiden ke Alibaba dan saat itu kita sering membahas ekonomi digital dan roadmap. Untuk itulah, disusun roadmap industri 4.0 dengan bantuan sejumlah pihak. Dengan adanya roadmap itu, diharapkan dapat meningkatkan daya saing industri nasional di kancah global, serta dapat menjadikan Indonesia sebagai 10 besar ekonomi dunia di 2030.

Implementasi Making Indonesia 4.0 yang sukses akan mampu mendorong pertumbuhan PDB riil sebesar 1-2% per tahun, sehingga pertumbuhan PDB per tahun akan naik dari baseline sebesar 5% menjadi 6-7% pada periode tahun 2018-2030. Sejak saat itu kemenperin mengundang Fraunhover yang menginiasi di Jerman kemudian bekerjasama dengan JETRO, JICA, dan secara khusus dengan AT Kearney untuk menyusun seluruh roadmap dan roadmap itu hari ini sudah kita selesaikan dan kami sampaikan kepada Bapak Presiden.

Indonesia telah menyiapkan lima sektor industri yang akan menjadi percontohan dalam implementasi Industri 4.0. Ini sesuai yang akan dijalankan pada roadmap Making Indonesia 4.0, yaitu industri otomotif, makanan dan minuman, tekstil, elektronik, serta kimia. Jadi ada unggulannya atau champion, sehingga industri lain bisa melihat dan mencontoh. Misalnya, di industri otomotif, sebagian pabrik sudah melakukan otomatisasi. Langkah selanjutnya, yang terpenting adalah melihat prospek pasar saat ini, terutama untuk ekspor. Memperluas pasar ekspor itu tergantung dari jenis kendaraan. Kendaraan di seluruh dunia, permintaan besarnya adalah jenis sedan. Sedangkan di Indonesia lebih mengembangkan yang tujuh bangku, sehingga perlu ada penyesuaian.

Presiden Joko Widodo (Rabu, 4/4/2018) saat membuka Indonesia Industrial Summit 2018 di Jakarta Convention Center (JCC), mengungkapkan Revolusi Industri 4.0 atau industri generasi ke empat merupakan perubahan sektor industri di dunia yang dipengaruhi oleh maraknya perkembangan teknologi serta internet. Guna mewujudkan industri generasi ke empat, pemerintah merancang Making Indonesia 4.0 yang memuat sejumlah inisiatif untuk diterapkan. Salah satu garis besar dari inisiatif dimaksud adalah mempersiapkan tenaga kerja yang andal serta keterampilan khusus untuk penguasaan teknologi terkini.

Pemerintah telah mengelompokkan lima industri utama yang disiapkan untuk Revolusi Industri 4.0. Lima industri yang jadi fokus implementasi industri 4.0 di Indonesia yaitu industri makanan dan minuman, tekstil, otomotif, elektronik, dan kimia. Lima industri tersebut diharapkan membawa efek yang besar terhadap daya saing dan kontribusinya terhadap ekonomi Indonesia menuju 10 besar ekonomi dunia pada 2030. Lima sektor tersebut juga dinilai akan menyumbang penciptaan lapangan kerja lebih banyak serta investasi baru yang berbasis teknologi. Kelima jenis industri tersebut ditetapkan menjadi tulang punggung dalam rangka meningkatkan daya saing yang sejalan dengan perkembangan industri generasi ke empat.

Menteri Perindustrian (KEMENPERIN) Airlangga Hartanto pada acara Diklatda HIPMI JAYA di Jakarta, (Kamis, 12/4/2018) menyebut gelaran Indonesia Industrial Summit 2018 akan jadi ajang Kementerian Perindustrian bersama pemangku kepentingan untuk mendiskusikan kesiapan Indonesia menuju Revolusi Industri 4.0. Indonesia berpeluang besar menjadi pemain kunci di kawasan Asia dalam upaya mengimplementasikan Industri 4.0. Faktor utama yang dapat mempengaruhi pengembangan di era digital tersebut antara lain adalah pasar dan talent. Saat ini pengguna internet di Indonesia jumlahnya mencapai 143 juta orang. Ini merupakan sebuah potensi pasar yang besar. Kemudian, talent itu kita miliki dari seluruh universitas yang ada, di mana di Indonesia jumlahnya terbanyak di ASEAN.

Kemudian modal yang telah dimiliki Indonesia menjadi kesiapan memasuki era perubahan di Industri 4.0. Terlebih lagi, generasi millenial akan memiliki peranan penting karena merekalah pengguna dominan dari teknologi yang menjadi ciri khas revolusi industri keempat, yaitu internet. Komposisi pengguna internet yang usianya 19-34 tahun, merupakan yang terbanyak dengan mencapai 49,5 persen. Mereka berinteraksi atau melek teknologi melalui smartphone.

Kompetensi Sumber Daya Manusia

Dalam pelaksanaan Industri 4.0, dipastikan manusia tidak akan tergantikan oleh robot. Karena sejak revolusi industri ketiga sudah otomatisasi. Sedangkan pada industri 4.0, industri yang sudah terotomatisasi tersebut terhubung dengan internet of things, sehingga pengontrolan data lebih efisien, efisiensi mesin lebih baik, dan efisiensi ini bisa dipacu hingga 99 persen. KEMENPERIN tengah gencar mendorong peningkatan kompetensi sumber daya manusia Indonesia agar menguasai teknologi digital. Salah satu langkahnya adalah melalui program vokasi SMK dan industri serta untuk memacu politeknik melalui program skill for competitiveness.

Kepada para pengusaha muda untuk dapat mengambil kesempatan di era digital saat ini. Peluang masih terbuka luas, karena industri membutuhkan peluang yang namanya economies of scale. Seperti industri rumahan saat ini, sudah bisa menjangkau pasar, tidak harus mampu sewa tempat di mall terlebih dulu. Maka itu, para pelaku industri kecil dan menengah (IKM) diminta bisa memanfaatkan beberapa fasilitas taman teknologi yang dibangun oleh KEMENPERIN.

Misalnya di Bandung Techno Park, mereka bakal memperoleh program pembinaan dan pelatihan guna pengembangan inovasi dan daya saing produknya. Mereka bisa memakai gedung tersebut sampai mempunyai revenue. Setelah mempunyai revenue, mereka bisa sewa di tempat yang lain.

Selain itu, KEMENPERIN juga memiliki Bali Creative Industry Center (BCIC), di mana produk-produk yang dihasilkan mereka telah dipasarkan. Melalui techno park itu Kemenperin ingin terus mendorong inovasi, termasuk didukung adanya Apple Center di Bumi Serpong Damai, dan janjinya akan dibangun lagi di daerah lain.

Apple menganggap Indonesia merupakan negara ketiga sesudah Brasil dan Italia atau menjadi negara pertama di Asia, sebagai lokasi mereka membangun pusat inovasi. Dengan ditopang oleh fasilitas tersebut, Indonesia bisa meng-create the new Silicon Valley. Ini merupakan potensi kita yang ada di tangan seluruh para pengusaha kita, terutama generasi muda, termasuk HIPMI yang akan menjadi tulang punggung the new economy Indonesia.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Jakarta, (Senin, 16/4/2018) mendorong kompetensi sumber daya manusia (SDM) untuk menghadapi revolusi industri 4.0. Salah satunya adalah dengan menggenjot vokasi atau pendidikan tinggi yang menunjang pada penguasaan keahlian terapan tertentu. Kemudian politeknik. Saat revolusi industri 4.0, kebutuhan skill baru sangat berperan. Sehingga, nantinya dibutuhkan berbagai pelatihan dan kursus di bidang Internet of Things (IoT). Karena itu, pemerintah akan mendorong agar IoT ini bisa lebih terbuka lagi. Jadi nanti, perguruan tinggi akan didorong mata kuliah wajib berikutnya. 

Ada banyak profesi yang dibutuhkan pada era digitalisasi atau revolusi industri 4.0 ini. Misalnya untuk e-commerce dibutuhkan seperti call center, customer service, dan lainnya. Salah satu skill atau kemampuan paling banyak dibutuhkan adalah coding atau pengkodean di bidang informasi teknologi (IT). Jadi kalau untuk Internet of Things atau digitalisasi itu, masalah koding ini menjadi penting. Bidang lain yang paling banyak dibutuhkan adalah analisa data atau artificial intelligence. Dan yang menjadi kunci adalah statistik.

Pemerintah juga akan mengembangkan industri-industri yang memiliki nilai tambah tinggi, salah satunya adalah industri elektronik untuk smartphone seperti di Batam, Kepulauan Riau (Kepri). Karena itu, tantangan pemerintah Indonesia selanjutnya adalah kesempatan re-skilling pada digitalisasi.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada acara Innofest ID 2018 di Kementrian Perindustrian, (Selasa, 24/7/2018) megatakan dalam inisiatif Making Indonesia 4.0, telah ditetapkan 5 sektor industri prioritas untuk implementasi sistem Industri 4.0. Kelima sektor ini adalah sektor industri yang telah memiliki kesiapan dan berpotensi memberikan daya ungkit besar dalam capaian aspirasi yang ditetapkan. Sektor-sektor industri yang dimaksud adalah industri makanan dan minuman, industri otomotif, industri elektronik, industri kimia serta industri tekstil dan produk tekstil. Sektor-sektor tersebut menyumbang 60 persen PDB manufaktur, 65 persen ekspor manufaktur dan 60 persen pekerja manufaktur.

Selain penetapan sektor prioritas beserta strateginya, ditentukan pula strategi persiapan dan penerapan Industry 4.0 yang bersifat lintas sektoral. Inisiatif strategis persiapan dan penerapan Indusry 4.0 yang bersifat lintas sektoral yakni reoptimalisasi supply chain, membangun infrastruktur digital secara nasional, meningkatkan SDM industri khususnya di bidang kompetensi digital dan kewirausahaan, memicu peningkatan inovasi melalui insentif dan mengoptimalkan kebijakan dan regulasi di sektor industri.

Sehingga nantinya Indonesia bisa menjadi champions atau pemenang, dalam era digitalisasi ini.

SUMBER :

No comments:

Post a Comment

Saran-Kritik-Komentar Anda sangat bermanfaat.
Terima Kasih Telah Bergabung.