KULIAH PUBLIK: Mengerikan, Perang Dagang Antara China vs AS Berpotensi Merusak Ekonomi, Termasuk Indonesia.

SOSIAL MEDIA

PIKIRKAN YANG BAIK ~ o ~ LAKUKAN YANG TERBAIK ~ o ~ Ini Kuliah MetodeCHAT ~ o ~ Cepat_Hemat_Akrab_Terpadu ~ o ~ Silahkan Membaca dan Berkomentar

Ketahui Bagaimana Kondisi Ekonomi dan Bisnis Anda Terkini

  Baru-baru ini, pemerintah telah mulai melonggarkan mobilitas seiring menurunnya kasus covid-19. Sementara pada Juli hingga awal Agustus ek...

Thursday, July 05, 2018

Mengerikan, Perang Dagang Antara China vs AS Berpotensi Merusak Ekonomi, Termasuk Indonesia.


Perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dengan China kian panas. Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China dikhawatirkan akan membuat defisit neraca dagang RI tahun ini semakin lebar. Hal ini diperkirakan akan berdampak pada kembali terjadinya defisit neraca perdagangan Indonesia. Apalagi Indonesia baru satu kali mencatat surplus neraca perdagangan, yaitu pada Maret 2018 sebesar US$ 1,09 miliar.

Jumat (15/6/2018) lalu, Presiden AS Donald Trump menjatuhkan tarif berat sampai 25% atas produk impor China bernilai US$ 50 miliar. Tarif yang berimbas pada 800 produk penting China itu, termasuk mobil, akan berlaku 6 Juli 2018 mendatang. China pun diberitakan akan membalas dengan memberlakukan tarif yang sama beratnya dengan sikap AS, yang berdampak pada 659 produk AS. Produk impor dari AS yang dibidik sekitar 659 produk bernilai US$ 50 miliar.

Risiko perang dagang antara dua kekuatan ekonomi dunia yakni Amerika Serikat (AS) dan China menyedot perhatian para ekonom dunia. Ancaman AS untuk mengenakan tarif impor atas barang-barang China senilai US$ 200 miliar berpotensi memangkas target pertumbuhan ekonomi China ke depan. Peringatan itu datang di tengah tanda-tanda bahwa ekonomi negara penyumbang terbesar pertumbuhan global ini sudah melambat karena perselisihan perdagangan yang berisiko menjadi perang perdagangan yang berlarut-larut.

Presiden AS Donald Trump pada Senin (18/6/2018) memerintahkan identifikasi tarif tambahan 10% atau senilai US$ 200 miliar terhadap barang-barang China. Ini adalah reaksi Trump karena China menaikkan tarif impor barang AS senilai US$ 50 miliar. AS menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi China yang spektakuler telah dicapai secara signifikan melalui tindakan, kebijakan, dan praktik agresif yang berada di luar norma dan aturan global. China menaikkan tarif untuk membalas kebijakan Trump yang memutuskan untuk merealisasikan pengenaan tarif 25% pada produk China senilai US$ 50 miliar mulai 6 Juli.

UBS Group AG seperti diberitakan Bloomberg, memperkirakan, putaran awal tarif impor senilai US$ 50 miliar dapat menurunkan pertumbuhan ekonomi China sebesar 10 bps di tahun pertama. Jika Trump memaksakan tarif lebih dari US$ 100 miliar, hambatan pada pertumbuhan China bisa sekitar 30 bps hingga 50 bps.

Bursa saham Asia bergerak cenderung turun pada Kamis (28/6/2018) pukul 8.30 WIB, indeks Nikkei 225 turun 0,68% ke 22.118. Taiex turun 0,51% ke 10.646. Kospi turun 0,65% ke 2.326. Straits Times terkoreksi 0,04% ke 3.253 dan FTSE Malaysia turun 3.252. Sedangkan ASX menguat 0,14%. Hang Seng turun 0,23% ke 28.421. Indeks Hang Seng masih menguat meski ada kekhawatiran perang dagang Amerika Serikat-China.

Presiden AS Donald Trump mengatakan dengan pembatasan akuisisi China atas perusahaan teknologi AS akan memperkuat keamanan nasional. Asosiasi otomotif AS memperingatkan bahwa jika AS mengenakan tarif 25% atas kendaraan impor, maka akan ada penghapusan ratusan ribu pekerjaan di sektor ini. Alhasil, kenaikan tarif akan mengerek harga kendaraan. Pasar keuangan masih cenderung menahan diri di tengah perang dagang global yang makin meluas.

Tentang dampak tarif impor itu, analisis bervariasi dan tergantung pada rincian akhir dari aplikasi tarif impor itu. Realitas bahwa otoritas China memiliki kekuatan moneter dan fiskal yang sangat besar yang dapat mereka lepaskan untuk melawan perlambatan perdagangan juga akan menjadi pengaruh besar.

Chief Global Strategist Rakuten Securities Mutsumi Kagawa, kepada Reuters mengatakan, awalnya, investor melihat langkah Trump sebagai taktik negosiasi untuk mendapatkan kesepakatan lebih baik. Tapi, sekarang investor mulai khawatir langkah ini akan merusak ekonomi. Potensi perang dagang yang memanas antara China dan Amerika Serikat (AS) akan berdampak buruk terhadap ekonomi dunia, termasuk bagi ekonomi China dan AS.

Studi lembaga riset China yakni National Institution for Finance & Development (NIFD) menunjukkan ada potensi kepanikan di industri finansial China. Pembuat kebijakan China semakin khawatir akan terjadi turbulensi dan ketegangan yang meningkat di pasar keuangan. Sejumlah bahaya di depan mata diantaranya gagal bayar atawa default surat utang, likuiditas yang mengering dan penurunan pasar finansial di tengah tren kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS).

Menurut Bloomberg, NIFD memperingatkan pembelian saham dengan leverage telah mencapai level seperti di 2015 ketika pasar ambruk dan nilai pasar menguap US$ 5 triliun. "Kami pikir China saat ini seperti panik melihat kondisi sektor keuangannya," tulis NIFD dalam riset yang sempat diunggah di internet sebelum kemudian dihapus.

Menurut NIFD, China harus siap meluncurkan kebijakan campuran fiskal dan kebijakan untuk menjaga pasar jika terjadi krisis sistemik.  Otoritas keuangan China juga harus mengambil langkah penuh untuk mendukung sektor keuangan jika default terjadi. Goncangan telah terlihat dari  nilai tukar mata uang yuan yang tertekan serta harga saham yang melorot.

Lembaga riset pemerintah China yakni Chinese Academy of Agricultural Sciences juga meluncurkan riset yang menyebut perang dagang bakal menurunkan porsi ekspor pertanian AS hingga 40%. Pengiriman sejumlah produk pertanian dari Negeri Paman Sam ke China menurun drastis, seperti produk kacang kedelai, kapas, daging sapi dan diperkirakan masing-masing turun hingga 50%. Penurunan ekspor AS ke China mengakibatkan harga keledai impor bisa naik 5,9% dan harga kapas impor naik 7,5%. Dengan kondisi tersebut China makin gencar merajut jalur sutera modern antarnegara atawa One Belt One Road (OBOR). Harapannya, bisa memenuhi pasokan kedelai dari negara lain demi memenuhi kebutuhan produk biji-bijian di dalam negeri.

Ekonom Eksekutif di Nomura, Takahide Kiuchi, mengatakan, dalam skenario terburuk, kedua negara dapat berakhir dengan mengenakan tarif tambahan rata-rata sekitar 10%  pada semua barang impor dari negara lain.

Perkiraan dari Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), skenario terburuk dari perang dagang akan mengurangi produk domestik bruto (PDB) AS sebesar 2,2% dan PDB China sebesar 1,7%.

Direktur Pelaksana Bank Sentral Singapura atau Monetary Authority of Singapore (MAS) Ravi Menon, seperti dilansir Bloomberg mengingatkan sebuah peringatan keras akan konsekuensi "mengerikan" terhadap ekonomi global bila friksi perdagangan saat ini makin meningkat menjadi perang dagang besar-besaran. Dunia telah jelas bergerak dari ketegangan perdagangan ke konflik perdagangan. Jika ini meningkat menjadi perang dagang, tiga mesin pertumbuhan ekonomi global yakni manufaktur, perdagangan, dan investasi, akan mandek. Apalagi setelah AS mengancam akan memberlakukan tarif impor lebih tinggi pada barang-barang dari China, Kanada, Uni Eropa, dan negara lainnya, maka kekhawatiran bahwa konflik perdagangan menyebar semakin meningkat. Ini akan merongrong pertumbuhan ekonomi global dan melukai negara-negara yang bergantung pada ekspor seperti Singapura. Perang dagang ini lebih berisiko dibandingkan harga minyak yang makin memanas, kenaikan suku bunga global dan kurs dollar yang lebih kuat. Dampak langsung dari tarif impor yang lebih tinggi akan terbatas. Namun jika konflik menyebar, hasilnya akan parah bagi ekonomi global. Jika konflik perdagangan yang serius atau perang dagang dengan tarif yang diterapkan di berbagai macam produk, konsekuensinya akan sangat mengerikan.

Bank Sentral Singapura memperkirakan pertumbuhan ekonomi Singapura sebesar 2,5%-3,5% pada tahun ini. MAS yang menggunakan mata uang sebagai instrumen utama moneternya dibandingkan suku bunga, bergeser ke pengetatan kebijakan moneter sejak April 2018 karena inflasi meningkat. Jika konflik perdagangan menjadi jauh lebih serius, maka itu bukan lagi risiko di belakang. Itu menjadi kenyataan saat ini, dan dalam hal ini, kebijakan moneter harus memperhitungkannya.

Analis Monex Investindo Futures Putu Agus Pransuamitra mengatakan, aksi ambil untung terjadi pada the greenback lantaran dollar AS telah menguat signifikan. Aksi ambil untung terhadap dollar Amerika Serikat (AS) membuat rupiah rebound. Rabu (4/7/2018), kurs spot rupiah naik 0,24% ke posisi Rp 14.363 per dollar AS. Adapun kurs tengah rupiah di Bank Indonesia menanjak 0,52% ke Rp 14.343 per dollar AS. Selain itu, kemarin pasar keuangan AS libur karena merayakan hari kemerdekaan AS.

Pemerintah China menetapkan target pertumbuhan ekonomi tahun ini sebesar 6,5%, turun dari realisasi tahun lalu, yaitu 6,9%. Para pejabat pemerintahan China sudah menjalankan kebijakan dalam upaya menjaga pasar keuangan dari guncangan sengketa perdagangan dengan AS dan prospek pertumbuhan yang memburuk. Regulator China menjaga nilai tukar yuan pada tingkat yang jauh lebih kuat dari yang diharapkan (Rabu, 20/6/2018). Ini menunjukkan upaya untuk membendung kemerosotan dua hari yang paling curam sejak devaluasi 2015.

Gubernur Bank Sentral China Yi Gang berjanji untuk menggunakan perangkat kebijakan moneter "komprehensif" untuk mendukung ekonomi negara. Intervensi bank sentral dilakukan setelah nilai tukar yuan turun drastis di bawah level psikologis. Ekuitas perusahaan China juga terus merosot karena bursa saham di Shanghai Composite Index turun ke level terendahnya selama dua tahun. Pasar finansial China tertekan setelah Trump melontarkan ancaman tambahan tarif impor senilai US$ 200 miliar dan menuduh China menjalankan kebijakan yang mengancam ekonomi dan keamanan nasional AS.

Eskalasi perselisihan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China mengguncang pasar saham global. Menurut Chief Executive Officer Goldman Sachs Group Inc., Lloyd Blankfein, ancaman Trump lebih ke strategi tawar-menawar. Ketiga indeks utama di Wall Street ditutup merosot pada perdagangan Selasa (19/6/2018) waktu setempat.

Mengutip Bloomberg, Dow Jones Industrial Average berakhir turun 287,26 poin atau 1,15% menjadi 24.700,21. Indeks S&P 500 mengekor dengan penurunan sebesar 11,18 poin atau 0,40% ke level 2.762,57. Begitu pula dengan Nasdaq Composite tergerus 21,44 poin atau 0,28% menjadi 7.725,59. Indeks acuan saham AS langsung melemah sejak awal perdagangan, karena perang dagang antara AS dan China kian memanas. Meski sempat mencoba naik, namun indeks tak mampu berakhir di zona positif. Dengan penurunan tersebut, kinerja Dow Jones pada tahun ini sudah minus.

Emily Roland, kepala riset pasar modal di John Hancock Investments, seperti dilansir Reuters, Rabu Investor tersadar dengan pemikiran bahwa semua retorika dalam perdagangan bisa lebih dari sekadar taktik negosiasi," kata.

Michael O’Rourke, kepala strategi pasar di JonesTrading mengatakan mengingat retorika dari kedua negara tersebut yang memanas belakangan ini, sejumlah investor menilai penurunan pada saham AS relatif kecil. Pasar AS telah bertindak lebih kuat daripada pasar ekuitas global. Ini terbilang respons yang tenang. Indeks volatilitas CBOE, yang mengindikasikan tingkat kekhawatiran di Wall Street, sempat mencapai 14,68, tertinggi hampir tiga minggu, sebelum turun ke 13,35.

Imbas perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China, berpotensi menurunkan porsi ekspor pertanian AS hingga di angka 40%. Ini adalah laporan yang diterbitkan Chinese Academy of Agricultural Sciences, sebuah lembaga riset pemerintah China. Pengiriman sejumlah produk pertanian dari AS ke China menurun drastis, seperti produk kacang kedelai, kapas, daging sapi dan diperkirakan masing-masing turun hingga 50%. Adapun laporan riset ini disebarluaskan melalui akun Wechat resmi lembaga pertanian China tersebut, pada Selasa (26/7/2018).

Mengutip Bloomberg Rabu (27/6/2018), penurunan ekspor AS ke China mengakibat harga keledai impor bisa naik 5,9% dan harga kapas impor naik 7,5%. Kenaikan tersebut, diperkirakan bakal mempengaruhi harga komoditas pertanian lain walaupun kecil. Atas hal itu, China justru makin gencar merajut jalur sutera modern antarnegara One Belt One Road (OBOR). Harapannya, bisa memenuhi pasokan kedelai dari negara lain demi mendukung kebutuhan produk biji-bijian di dalam negeri. Meski demikian, Chinese Academy of Agricultural Sciences merekomendasikan agar pemerintah China dapat menekan harga produk gandum dan beras, salah satunya melalui subsidi.

Karena China dikenal sebagai importir produk pertanian terbesar di dunia sejak tahun 2017 maka untuk menyelesaikan sengketa perdagangan itu, diperlukan negoisasi antara negara yang bisa menguntungkan semua pihak.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) sepanjang 2017, ekspor nonmigas Indonesia ke China mencapai US$ 21,32 miliar atau 13,94% dari total ekspor nonmigas Indonesia. Jumlah itu tumbuh signifikan, mencapai 41,03% year on year (yoy). Sementara ekspor nonmigas Indonesia ke AS mencapai US$ 17,14 miliar atau 11,2% dari total eksppr nonmigas Indonesia. Jumlah itu juga tumbuh 9,29% yoy. Bulan Agustus-September masih berpotensi defisit US$ 500 juta-US$ 1 miliar. Ada tekanan juga dari defisit migas seiring harga minyak yang tak terprediksi. Sejak awal tahun hingga saat ini, neraca dagang Indonesia memang baru satu kali mencapai surplus pada Maret 2018 sebesar US$ 1,09 miliar.

Pemerintah harus segera mencari strategi untuk mengalihkan produk ekspor ke pasar lain. Sebab, beberapa komoditas strategis seperti CPO, tekstil, hingga karet akan terkena imbas. Di kuartal pertama 2018 saja, pertumbuhan ekspor CPO dan karet secara tahunan, jeblok. Pasar lain, misalnya Afrika Bagian Tengah dan Selatan, Eropa Timur, Amerika Latin, Asia Tengah, dan Rusia. Indonesia perlu bekerja keras untuk masuk ke pasar-pasar tersebut. Sebab selama ini permasalahan perdagangan Indonesia adalah tidak memiliki perjanjian dagang yang menyebabkan bea masuk mahal, biaya logistik yang belum efisien, dan atase perdagangan pasif sehingga market intelligence untuk data kebutuhan pasar masih lemah.

Project Consultant Asian Development Bank (ADB) Institute Eric Sugandi mengatakan, perang dagang AS dan China dalam skala global akan merugikan perekonomian dunia. Tak hanya dalam jangka pendek, tetapi juga dalam jangka menengah dan panjang. Beberapa negara bisa untung, jika memang produk ekspornya merupakan produk substitusi China. Tapi perang dagang berisiko memperbesar defisit neraca perdagangan Indonesia. Sebabnya pertama, ekspor Indonesia ke China melemah jika pertumbuhan ekonomi China melambat. Kedua, ada pengalihan beberapa barang ekspor dari China yang tadinya ke AS menjadi ke Indonesia, seperti baja dan alumunium. Perkiraan Eric, dampak perang dagang terasa setelah satu kuartal tarif-tarif impor tersebut diberlakukan.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede melihat, dampak perang dagang terhadap neraca dagang Indonesia paling cepat terasa tahun depan. Sebab, hingga kini negosiasi masih terus berlangsung.

Ekonom Institute Development of Economic and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan, perang dagang akan membuat neraca perdagangan RI kembali defisit di semester II-2018. Bulan Agustus-September berpotensi defisit US$ 500 juta–US$ 1 miliar. Karena itu pemerintah harus segera mencari strategi mengalihkan produk ekspor ke pasar lain, seperti Afrika Bagian Tengah dan Selatan, Eropa Timur, Amerika Latin, Asia Tengah, dan Rusia. Sebab, beberapa komoditas strategis seperti minyak sawit (CPO), tekstil, hingga karet akan terkena imbas.

Semoga Indonesia mampu menghadapi goncangan ekonomi dunia ini.

SUMBER :

No comments:

Post a Comment

Saran-Kritik-Komentar Anda sangat bermanfaat.
Terima Kasih Telah Bergabung.