KULIAH PUBLIK: Berhati-hatilah Dengan “Dumb Money” Untuk Modal Usaha

SOSIAL MEDIA

PIKIRKAN YANG BAIK ~ o ~ LAKUKAN YANG TERBAIK ~ o ~ Ini Kuliah MetodeCHAT ~ o ~ Cepat_Hemat_Akrab_Terpadu ~ o ~ Silahkan Membaca dan Berkomentar

Ketahui Bagaimana Kondisi Ekonomi dan Bisnis Anda Terkini

  Baru-baru ini, pemerintah telah mulai melonggarkan mobilitas seiring menurunnya kasus covid-19. Sementara pada Juli hingga awal Agustus ek...

Wednesday, August 06, 2014

Berhati-hatilah Dengan “Dumb Money” Untuk Modal Usaha

Apa itu dumb money ? Dumb money adalah ketika kamu pertama kali ‘raise funding’ dari pihak luar di luar tim inti, namun pihak investor sama sekali tidak mengerti tentang ‘how a startup investment works, even how YOUR BUSINESS WORKS’, mereka tahunya hanya naruh duit, dapet share saham sama dengan founder,  alasannya karena “saya keluar duit, sedangkan kamu tidak keluar apa – apa”, ketika bisnis jeblok atau tidak sesuai ekpektasi, mereka menghentikan komitmen investasinya, atau bahkan lebih parah, mereka minta duitnya balik 100%.

Kenapa founder tidak boleh sembarang menerima uang, kenapa investor (startup) tidak boleh beralasan demikian dalam berinvestasi (saya punya duit, saham saya minimal sama dengan kamu), dan kenapa investor tidak boleh meminta duitnya balik 100% saat perusahaan dalam kondisi struggle, dan kenapa founder tidak boleh sembarang memilih co-founder, dan kenapa kita tidak boleh split saham fix dengan co-founder diawal ( 70:30 atau 50:50 ), akan saya jabarkan sebagai berikut :

Salah memilih co-founder. Desember 2011, dengan modal split saham 70% : 30% (v) saya dan seorang teman programmer yang juga seorang pegawai tetap di sebuah perusahaan BUMN, akhirnya memutuskan mengeksekusi ide tersebut. Pada awalnya kami terlihat sangat bersemangat dan antusias, daring the world to stop us!, saat kita akan mulai, terlihat beberapa kompetitor yang sudah bernama besar, ugh, it’s okay, we’ll do better!, namun kata “we’ll do better” ini konsekuensinya sangat besar baik dari segi biaya yang harus dikeluarkan, resiko berurusan dengan hukum, dan permasalahan teknologi yang tampak impossible. Selain masih sibuk dengan pekerjaan utamanya sebagai pegawai BUMN (v), co-founder juga mulai menciut nyali dan komitmennya, akhirnya bisasaja dalam 3 bulan startup anda tidak berbentuk apa – apa kecuali landing page dengan background warna oranye polos norak dan beberapa text yang posisinya menceng – menceng. Keputusan yang tepat adalah segera memecat co-founder anda

Mendapatkan Investor Dumb Money. May 2012, one lesson learnt, another trouble comes. Dari pelajaran sebelumnya, saya memutuskan bahwa saya harus memiliki full time programmer yang fokus hanya di startup ini, artinya kita harus membayar gaji full time penuh selama minimal 1 tahun. Buatlah business plan terperinci untuk biaya operasional 2 tahun(v), kebutuhan dana pun otomatis membengkak. Di antara biaya operasional itu, ada gaji founder sebagai CEO, co founder sbg CTO dan cofounder2 sebagai CMO, ada gaji full time programmer, gaji operasional hosting server dll, dan biaya marketing, di mana kalau ditotal kurang lebih sekitar 500 juta. Anda boleh mencoba pitch ke beberapa teman kaya, atau pengusaha business offline yang ingin berinvestasi. Buatlah kesepakatan yang terbaik dengannya untuk membagi saham dengan split (again), 30%, 20%, 20%, 20%(v). Dan seterusnya.

Dari berbagai buku dan suber-sumber lainnya, anda dapat menemukan kesimpulan bahwa : 
Founder tidak perlu membuat business plan terlalu rinci karena hanya akan membuang waktu.
Jangan pernah merekrut half-assed-comitted-founder, founder demikian hanya akan memberikan half-assed-value!. Cari founder yang mau FOKUS, kalau tidak ada uang, gunakan metode Dynamic Equity Split (nanti dijelaskan dibawah), jangan Fixed Equity Split, fixed equity split akan menyulitkan kalau co-founder tidak perform dan ingin dikeluarkan dari tim.
Investor tidak fair dalam pembagian saham di awal karena dia tidak turut andil dalam operasional harian, meminta porsi saham cukup besar, dan meminta exit dengan full liquidity ketika bisnis kacau.
Kenapa tidak fair, karena seluruh tim telah sepakat dan berkomitmen ( CEO, CTO, CMO, investor ) untuk menciptakan suatu produk yang belum tentu berhasil, dengan mengorbankan OPPORTUNITY COST masing – masing, tanpa kompensasi gaji. (Opportunity cost artinya, tim seharusnya bisa mendapatkan pendapatan ditempat lain, namun tidak bisa karena harus fokus di startup, opportunity cost saya 15jt perbulan, menjadi 0 perbulan tanpa kompensasi apapun di startup)
Ketika modal telah disetor, dan komitmen adalah saham, maka investor harus tahu bahwa modal tidak akan kembali kecuali perusahaan menciptakan value terlebih dahulu. Seluruh tim saat ini sedang dalam kondisi merugi ( opportunity cost yg belum kembali ), tapi investor dengan enaknya menarik diri dari komitmen, dan meminta eksekutif mengembalikan uang secara penuh.
Pengembalian uang secara penuh hanya memungkinkan jika komitmen di awal adalah hutang piutang, dan dapat ditagih ketika jatuh tempo.
Opportunity cost eksekutif yang tidak dikompensasi gaji ( gaji bisa dibuat minimal, tidak harus sama dengan opportunity cost), seharusnya diperhitungkan sebagai modal disetor, dan otomatis akan mendilusi saham investor, ini adalah resiko buat investor yang tidak mau tau dan terlibat dalam operasional sehari – hari.
Metode tersebut namanya Dynamic Equity Split ( mulai canggih bahasanya )
Pada dasarnya keseluruhan masalah adalah karena cacat komitmen dari semua pihak, co-founder dengan sidejob nya, investor stop komitmen funding yang membuat cashflow berantakan.
Ketika bisnis sudah menggunakan uang (orang lain), gunakan agreement hitam diatas putih, dan kukuhkan kepemilikan saham dengan badan hukum berupa PT ( Perseroan Terbatas ). Badan hukum bukan cuma buat gaya – gaya an, buat dipinjem namanya ketika ada tender, BUKAN, badan hukum adalah kendaraan investasi yang melindungi komitmen, hak dan tanggung jawab para pemegang saham! Namun harus diingat bahwa jangan ulangin kesalahan yang telah dialami orang lain, never choose a half-commited co-founder, and never take dumb money investor!!

  
Pilihlah Co-Founder yang Tidak Sucks

“Find a co founder that truly rocks at something.  Anything.
Knowing each other for a long time tends to be a good recipe for cofounders. Two old friends and the smartest person they knew”
 – Jessica Livingston

The biggest thing we all knew was that cofounders tend to do better than single founders”
– Ron Conway

You cannot hire a cofounder
 - Max Levchin

Memilih seorang co-founder adalah keputusan paling penting yang Anda ambil. Hal ini jauh lebih penting dari produk, pasar, dan investor-investor Anda. Di dunia internet startup, co founder merupakan faktor penentu yang sangat penting, sama halnya dengan “location, location, location” di dunia bisnis ritel.

Salah satu pengalaman terburuk saat ingin membuat startup, seperti TechinAsia (blog teknologi). Ada lima orang tim founder. Dari lima orang ini tidak ada yang punya pengalaman menulis di bidang tech sebelumnya. Mereka ber lima merupakan programmer dan semuanya tidak bisa menulis. Tetapi harus dicatat bahwa tipe startup seperti itu ternyata butuh co founder teknikal yang kuat, dan perlu rajin ber-networking, membangun jaringan, lebih-lebih lagi, harus ada tempat untuk bernetworking. Internet startup yang bagus, biasanya memiliki founder tidak lebih dari tiga founder utama pada awal pendiriannya, seperti : Facebook, Twitter, Google, Linkedin, YouTube, Techcrunch, Foursquare. Mungkin ada yang lebih dari tiga founder dan sukses, tetapi mungkin tak sepopuler mereka.


The power of two, Jangan terlalu banyak.
Dua adalah angka yang tepat, hindari ‘three-body problem’. Lihatlah Jobs dan Wozniak, Allen dan Gates, Ellison dan Lane, Hewlett dan Packard, Larry dan Sergei, Yang dan Filo, Omudyar dan Skoll. Perusahaan dengan satu orang founder juga bisa saja berjalan (cth: Mark Zuckerberg,  Bahkan perusahaan yang memiliki 3 founder juga. Namun, perusahaan yang memiliki 3 founder, ada kemungkinan terjadi “politik,” voting berkelompok misalnya, perebutan posisi, dan lain-lain, tapi masih mungkin bisa diatur. Empat adalah konfigurasi yang sangat tidak stabil dan lima biasanya gagal. Jika ada perusahaan dengan 4-5 founder dan bisa berjalan, hal itu dimungkinkan oleh “dua orang founder mendominasi”. Perusahaan dengan dua founder bisa berjalan karena kebulatan suara bisa dicapai, dan politik dalam perjalanan startup akan minim, keinginan masing-masing bisa diatur dengan mudah, dan “taruhan” yang diberikan para founder akan cukup tinggi dalam hal finansial.

Startup dengan lima founder secara umum akan membagi saham masing-masing 20% dan karena jumlah founder yang banyak, di masa berjalannya startup, akan muncul uneg-uneg seperti : Banyakan saham kamu daripada saya, kenapa kok rasanya kerja gw lebih berat dari pada kamu ? Akan sulit menjaga banyak orang untuk tetap pada level hard work yang setara. Tapi menariknya, Agate Studio di Bandung, merupakan startup mahasiswa dengan 18 orang founder masih jalan dan semakin maju sampai saat ini. Entah bagaimana caranya, akan menarik untuk kita tanya kapan-kapan ke Clawford dan Shienchou.

Someone you have history with.
Lebih baik jika Anda memiliki co founder yang pernah bekerja sama sebelumnya bersama Anda. Tentu Anda tidak akan menikahi seseorang yang baru kemarin Anda temui. Anda harus melalui masa-masa kencan bersamanya untuk mengenal dirinya. Lebih baik jika Anda pernah melalui situasi yang sulit bersamanya, seperti Prisoner’s Dilemma atau sebuah Zero-Sum Game. Segalanya akan berjalan lancar jika dalam perjalanan startup, situasi yang dihadapi adalah situasi yang terus menguntungkan bagi semua founder. Tetapi tidak semudah itu kan ? Bagaimana situasinya adalah satu untung-satu rugi ?

Ada cerita tentang 2 founder startup yang baru saling kenal kemudian memutuskan mengontrak sebuah tempat kos sambil mengatakan “Kita coba dulu 2 bulan sering bertemu, sharing ide, build something, tanpa komitmen yang terlalu formal, jika tidak jalan ya sudah kita kembali ke rumah masing-masing, jika kira-kira bisa jalan, ayo kita membuat komitmen yang lebih serius di akhir bulan ke-2.”. Komitmen untuk saling me-ngetes tanpa komitmen yang terlalu formal bukanlah hal yang buruk.

Ada cerita tentang seorang founder dari Singapura (lebih baik tidak menyebut nama :p ) yang sedang membuka market game di Indonesia, dia TTM-an dengan seorang model dari Indonesia. Sewaktu ditanya “Kamu kenapa tidak nembak dia saja? daripada TTM-an terus ?” Jawabnya : “Girlfriend is like startup, everything can happen in the first 3 months”. Ada juga sebuah tim startup yang menyewa kamar di samping Universitas Bina Nusantara sambil mengerjakan project B2B, mereka juga membangun visi di consumer product. Mereka biasanya kumpul di kamar itu setiap malam seusai kuliah sampai pagi. Mereka berkomitmen untuk kerja bersama sampai drop di pagi harinya sekitar jam 02.00 – 03.00 kemudian pulang ke kos masing-masing atau tidur di kamar itu, kemudian besok paginya berangkat kuliah. Hal ini mereka lakukan karena untuk bisa mengenal satu sama lain dengan baik, mereka harus sering ketemu dan kerja bareng.

Para builder terbaik bisa membuat prototipe dan bahkan membuat keseluruhan produk, dari awal sampai akhir. Penjual terbaik bisa menjual kepada pelanggan, partner, investor, dan karyawan. Idealnya co founder adalah seseorang yang memperkuat kelebihan Anda dan menutupi kekurangan Anda. You need people with complementary skill sets, so you get more done. Pahamilah juga tipe startup apa yang Anda buat, jika membangun startup tipe konten, maka co founder yang jago dan kuat menulis akan sangat penting, tetapi jika membuat startup tipe teknologi – misalnya ecommerce, maka co founder yang kuat di programming dan design akan sangat penting.

Motivasi yang sama. Jika founder pertama ingin membuat “cool product”, yang kedua ingin “makes money”, dan yang satu lagi ingin terkenal. Pasti berantakan. Perhatikan dengan baik dan seksama, motivasi yang sebenarnya akan tampak dengan sendirinya, bukan di-declare.

Kriteria: Kecerdasan, energi, dan integritas.

Orang yang Anda cari bukanlah seseorang yang tumbuh bersama Anda. Juga bukan orang yang paling Anda sukai, dan bukan seorang hacker yang ingin bekerja tanpa dibayar. Yang Anda cari adalah seseorang yang memiliki kecerdasan, energi, dan integritas yang tinggi. Anda harus memiliki ketiga criteria itu, dan sejarah bersama orang tersebut untuk mengevaluasi co-founder Anda. Build value dari diri Anda sendiri.

Don’t get a suck co founder. You must not suck too. life is too short to hang out with people that aren’t resourceful”  - Jeff Bezos

Jangan cari co founder yang sucks. Peraturan ini juga berlaku untuk orang lain yang sedang meng-evaluasi diri Anda. Jika kamu sendiri sucks, maka kamu akan mendapatkan co founder yang sama-sama sucks.
Jika Anda merasa ada yang salah dengan calon co founder Anda, teruslah mencari. Jika Anda curiga, teruslah mencari. DNA dari sebuah perusahaan ditentukan oleh para foundernya, dan kultur perusahaannya adalah perpanjangan dari kepribadian foundernya.

Kriteria yang “not well informed”.

Para founder bisnis yang tidak bisa menulis program menggunakan cara yang salah untuk memilih co-founder teknikal (“memiliki 10 tahun pengalaman coding dengan Java!”), tetapi sebaliknya, founder teknikal yang tidak bisa menjual juga menggunakan cara yang salah (“Harvard MBA!”). Pelajari dengan baik sisi yang satu lagi (co-founder Anda) untuk mendapat informasi yang cukup. Jika Anda tidak benar-benar terkesan dengan profil seseorang, teruslah mencari.

Can you build this company without him ?. Ini adalah pertanyaan yang beberapa kali muncul dalam pitching antara founder dan investor, biasanya wajah founder akan berubah menjadi membingungkan untuk menjawabnya. Umumnya pertanyaan ini akan muncul apabila ada satu cofounder yang memiliki kontribusi sedikit (atau ke depannya : kontribusi potential yang sedang-sedang saja) di dalam startupnya.

Bagaimana jika orang yang tepat sudah memiliki startupnya sendiri? Yakinkan dia agar bekerja part-time di tempat Anda – dia akan meninggalkan idenya segera setelah melihat bahwa milik Anda lebih menarik. Jika Anda akan berpisah dengan co-founder Anda, lakukan se-awal mungkin, kejar kembali saham dalam startup Anda agar perusahaan bisa tetap berjalan, dan rekrut orang lain yang luar biasa untuk mengisi kekosongan itu. Membangun perusahaan yang hebat tanpa partner adalah seperti membesarkan seorang Anak tanpa…


Bagaimana caranya ?

Jika masih kuliah, pergi kuliah, tunjukkan kamu tidak sucks. Aktif di kegiatan mahasiswa, build value diri kamu, ceritakan visi kamu ke teman-teman. Networking. Networking. Networking. Datang ke acara yang memungkinkan untuk bertemu dengan partner bisnis. Datang ke acara meetup Startupbisnis, meetup Sparxup, meetup Tangan di Atas, meetup Startuplokal, Festival WirausahaKreatif dan banyak lagi. Co founder tidak akan bisa ditemukan hanya di kamarmu.


Bagaimana Warren Buffet Mengubah Uang U$40 Menjadi U$10 Juta?
Warren Buffet mungkin adalah investor yang paling hebat yang pernah ada dan ia mempunyai resep sukses yang bisa membantu anda mengubah uang sebesar U$40 menjadi U$10 juta. Beberapa tahun yang lalu, CEO Berkshire Hathaway ini berbicara tentang salah satu perusahaan favoritnya, yaitu Coca Cola, dan bagaimana setelah pembagian dividen, saham, dan reinvestment, seseorang yang membeli saham Coca Cola sebesar U$40 ketika perusahaan ini go public di tahun 1919, sekarang nilai saham itu menjadi lebih dari U$5 juta.

Warren Buffet dan cocacola
Namun di bulan April 2012, ketika jajaran direksi meminta pembagian saham dari perusahaan ini, angka itu ternyata diperbarui dan berbuah manis menjadi U$9.8 juta. Sekarang, angka ini menjadi U$10.8 juta.

Kekuatan dari kesabaran. Memang uang sebesar U$40 itu berbeda dengan U$40 yang sekarang. Akan tetapi, setelah dihitung dengan memasukkan faktor inflasi, ternyata U$40 yang dulu sama dengan U$540 saat ini. Jadi, apakah anda ingin satu buah Xbox One atau uang hampir U$11 juta? Tapi, yang kita bahas sekarang bukanlah masalah besarnya uang yang dihasilkan oleh Coca-Cola, melainkan apa yang dihasilkan Coca Cola sekarang ini sama sekali tidak terlihat pada saat tahun 1919, bahkan berpuluh-puluh tahun setelahnya. Tidak ada yang mengira bahwa harga gula bisa naik. Padahal, ada banyak hal yang terjadi selama 100 tahun terakhir yang mempertanyakan keberlangsungan Coca Cola dalam menjalankan bisnisnya, seperti Perang Dunia I dan II. Ternyata, kesabaran membuahkan hasil yang indah.

Bahaya dari timing. Seperti yang diterangkan oleh Buffet berkali-kali, menentukan waktu kapan akan membeli saham dan kapan akan menjualnya itu adalah tindakan yang berbahaya:
“Pada suatu bisnis/perusahaan yang hebat, anda bisa mencari tahu apa yang akan terjadi, tapi anda tidak bisa tahu kapan itu akan terjadi. Anda tidak ingin fokus pada kapan, anda hanya ingin fokus pada apa. Jika anda benar dengan apa, anda tidak perlu khawatir dengan kapan.”. Jadi seringkali investor diajarkan agar mereka bisa menentukan waktu yang tepat pada pasar, dan mulai berinvestasi ketika pasar sedang naik-naiknya dan menjual saham ketika pasar sedang turun.
Analysis teknikal seperti ini; melihat pergerakan saham dan membeli saham berdasarkan bagaimana harga berfluktuasi selama 200 hari bergerak atau fluktuasi lainnya seringkali mendapatkan banyak perhatian dari media, tapi telah dibuktikan bahwa ini tidak lebih baik daripada peluang yang random yang anda ambil untuk berinvestasi.

Berinvestasi pada jangka panjang. Seseorang harus memahami bahwa investasi bukanlah taruhan dan berharap bahwa secara ajaib anda akan mendapatkan hasil berkali-kali lipat dari apa yang anda investasikan. Investasi adalah membeli aset nyata pada suatu bisnis. Penting bagi anda untuk memahami harga relatif yang anda bayar pada suatu bisnis, tapi yang tidak penting untuk dipahami adalah apakah anda membeli di “waktu yang tepat,” karena orang seringkali berinvestasi semaunya saja.

Seperti apa yang dikatakan oleh Buffet?
 “jika anda benar berinvestasi pada suatu bisnis, anda akan menghasilkan banyak uang,”
jadi jangan repot-repot memikirkan untuk membeli saham berdasarkan bagaimana grafik mereka selama 200 hari belakangan. Lebih baik ingat kalimat ini,
“jauh lebih baik membeli saham pada suatu perusahaan yang hebat pada harga yang masuk akal.”


Sumber:
Slicing Pie – Funding your company without fund
Venture Deals – Smarter Than Your Lawyer & Venture Capitalist
The Lean Startup
Rework
The Millionaire Fastlane
Startupbisnis.com
http://startupbisnis.com
fool.com
https://id.berita.yahoo.com

No comments:

Post a Comment

Saran-Kritik-Komentar Anda sangat bermanfaat.
Terima Kasih Telah Bergabung.