KULIAH PUBLIK: Dollar Amerika Semakin Ganas Memerangi Ekonomi Dunia

SOSIAL MEDIA

PIKIRKAN YANG BAIK ~ o ~ LAKUKAN YANG TERBAIK ~ o ~ Ini Kuliah MetodeCHAT ~ o ~ Cepat_Hemat_Akrab_Terpadu ~ o ~ Silahkan Membaca dan Berkomentar

Ketahui Bagaimana Kondisi Ekonomi dan Bisnis Anda Terkini

  Baru-baru ini, pemerintah telah mulai melonggarkan mobilitas seiring menurunnya kasus covid-19. Sementara pada Juli hingga awal Agustus ek...

Sunday, September 02, 2018

Dollar Amerika Semakin Ganas Memerangi Ekonomi Dunia


Menyusul krisis ekonomi yang kian memburuk di Argentina, Pemerintah Argentina secara tak terduga meminta pencairan awal pinjaman senilai US$ 50 miliar atau setara Rp 733 triliun dari Dana Moneter Internasional (IMF). Namun, ada kekhawatiran kalau Argentina tidak dapat bayar kembali pinjamannya yang berat. Bahkan, rencana utang tersebut masih menyisakan pro dan kontra yang meluas di tengah masyarakat Negeri Tango itu.

Mata uang peso Argentina dilaporkan telah kehilangan lebih dari 40 persen nilainya terhadap dolar AS sepanjang 2018. Mata uang peso di level terendah 34,10 per dolar AS dan turun lebih dari 45,3 persen terhadap dolar AS. Hal itu didorong krisis ekonomi yang terjadi. Penurunan peso terparah sejak mata uang tersebut mengambang pada Desember 2015, telah menyebabkan lonjakan inflasi yang mencapai 31,2 persen pada Juli 2018. Merespons hal itu, bank sentral telah menaikkan suku bunga hingga 45 persen dan menarik cadangan devisa sekitar USD 300 juta.

Presiden Mauricio Macri mengatakan langkah itu dirancang untuk memulihkan kepercayaan terhadap ekonomi Argentina. Dalam pidato yang disiarkan televisi, Macri menuturkan akses cepat ke dana akan hilangkan ketidakpastian dan memulihkan kepercayaan pasar. Argentina setuju dengan Dana Moneter Internasional untuk memajukan semua dana yang diperlukan untuk menjamin kepatuhan dengan program keuangan tahun depan. Argentina berkomitmen mengatasi inflasi dua digit dan belanja publik yang merupakan bagian dari kesepakatan. Argentina ingin dukungan itu dengan upaya fiskal yang diperlukan (radionz, Kamis, 30/8/2018). Ketika persyaratan pinjaman disepakati pada Mei, Macri mengharapkan ekonomi pulih dan tidak berencana menggunakan pinjaman itu.

Dalam pidato yang disiarkan televise setempat, Presiden Macri menuturkan bahwa seminggu terakhir Pemerintah telah melihat ekspresi baru kurangnya kepercayaan di pasar, khususnya atas kapasitas pembiayaan pada 2019. IMF telah menyepakati untuk memajukan semua dana yang diperlukan guna menjamin kepatuhan dengan program keuangan tahun depan. Keputusan ini bertujuan untuk menghilangkan ketidakpastian pada laju ekonomi Argentina. Langkah-langkah lebih lanjut untuk mengendalikan pinjaman pemerintah akan segera dibahas menyertai perubahan kebijakan ekonomi Argentina.

Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde mengatakan (Mei 2018) bahwa IMF dapat berkontribusi untuk upaya itu dengan memberikan dukungan yang akan meningkatkan kepercayaan pasar. Itu memungkinkan waktu otoritas sehingga atasi berbagai kerentanan lama. Rencana telah dirancang oleh pemerintah Argentina dan bertujuan memperkuat ekonomi untuk kepentingan semua orang Argentina. Sebagai bagian dari kesepakatan, pemerintah Argentina berjanji untuk mempercepat rencana kurangi defisit fiskal. IMF menyatakan sedang pelajari permintaan Argentina untuk percepat pencairan pinjaman USD 50 miliar. (Reuters)

Dalam sebuah pernyataan (BBC pada Kamis, 30/8/2018) Christine Lagarde, menekankan dukungan untuk upaya kebijakan Argentina dan IMF membantu pemerintah dalam mengembangkan rencana kebijakan yang direvisi. IMF mengonfirmasi pada hari Rabu bahwa pihaknya ingin memperkuat pengaturan ekonomi, dan mengubah tahapan restrukturisasi di Argentina.

Di lain pihak, suku bunga dan dukungan tertinggi dunia dari IMF telah gagal meyakinkan investor. Peso Argentina masih kehilangan nilai meskipun semua upaya telah dilakukan untuk meredam kekhawatiran investor. Pasar negara berkembang lainnya seperti Turki dan Brasil juga menderita devaluasi mata uang mereka tahun ini, tetapi situasi Argentina dinilai sangat sulit oleh banyak pengamat.

Pemicu Guncangan Ekonomi Argentina

Para investor khawatir Argentina mungkin tidak dapat membayar pinjaman pemerintah yang dianggap berat dan sangat berisiko. Para wartawan menilai kebijakan mempercepat pencairan dana IMF menandakan keputusasaan. Ketika persyaratan pinjaman disepakati pada bulan Mei 2018, Presiden Macri mengharapkan ekonomi pulih dan tidak berencana segera menggunakan uang itu. Padahal, Argentina belum dapat menurunkan inflasi, yang tertinggi di antara negara-negara G20. Selain itu, pemerintah juga gagal memberlakukan reformasi ekonomi yang dijanjikan IMF, yaitu untuk membatasi belanja publik dan pinjaman.

Menurut beberapa pengamat, sebelumnya Presiden Macri terpilih atas janji menghidupkan kembali ekonomi, tetapi sejauh ini hanya sedikit kemajuan yang telah dibuat. Biaya kehidupan sehari-hari semakin mahal bagi penduduk Argentina, karena harga barang dan jasa yang masih berhubungan erat dengan dolar AS. Dan kombinasi antara inflasi spiral dan pemotongan belanja publik berarti upah tidak sejalan dengan harga, membuat kebanyakan orang menjadi lebih miskin.

Ekonomi Argentina dibayangi krisis karena pergerakan mata uang peso yang bergejolak, yang terjadi setelah ekonomi Argentina melonjak pada tahun 2017 dan proyeksi ekonom yang membaik dalam kepemimpinan Presiden Mauricio Macri. Faktanya, krisis Argentina saat ini, mulai dari nilai tukar peso Argentina, inflasi, ekonomi yang memburuk, dan kondisi lapangan kerja.

Berikut rangkaian deretan krisis Argentina yang dikutip dari Reuters, (Kamis, 30/8/2018). Selama beberapa tahun terakhir, para ekonom telah mengkaji bahwa mata uang peso Argentina dinilai terlalu tinggi. Disisi lain, Pemerintah mengakui bahwa kondisi itu akan terdepresiasi secara bertahap. Namun tidak ada yang memperkirakan peso akan terdepresiasi begitu cepat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada April 2018. Hal itu terjadi, dikarenakan kekhawatiran investor tentang kemampuan pemerintah untuk mengendalikan inflasi dan kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral AS yang memperkuat dolar AS di seluruh dunia. Depresiasi membuat utang Argentina berdenominasi dolar AS makin tinggi bagi pemerintah.

Selain itu, selama bertahun-tahun, Pemerintah Argentina begitu populis mencetak uang untuk membiayai defisit anggaran yang melebar, yang menyebabkan harga melonjak. Akibatnya, Tingkat inflasi Argentina yang tinggi menjadi salah satu faktor yang membuatnya lebih rentan dibanding negara berkembang lainnya.  Pemerintah Macri memang telah mengurangi praktik itu, tetapi kenaikan harga barang sebagai bagian dari upaya mengurangi subsidi dan menutup defisit fiskal membuat inflasi tetap tinggi.

Penurunan tajam dalam nilai tukar peso membuat inflasi naik dalam beberapa bulan terakhir. Bank Sentral Argentina merespons depresiasi peso yang cepat dan lonjakan inflasi dengan menaikkan suku bunga menjadi 45% dan menggelontorkan miliaran dolar AS cadangan devisanya untuk melindungi nilai tukar peso. Hal itu mengakibatkan pertumbuh cadangan devisa secara bertahap sejak Desember 2015, menurun drastis. Pinjaman IMF memang memberikan tambahan cadangan devisa, namun tekanan terus menerus terhadap peso telah mulai mendorong intervensi bank sentral yang diperbarui dalam beberapa pekan terakhir.


Disisi lain, badai keuangan berupa lonjakan inflasi dan kenaikan suku bunga yang telah membebani ekonomi Argentina, beberapa nasib buruk juga telah melanda Argentina diluar kendali Macri. Kekeringan terburuk dalam beberapa dekade memangkas panen kedelai dan jagung yang menjadi tulang punggung ekonomi Argentina. Perekonomian Argentina kini telah mengalami kontraksi selama tiga bulan berturut-turut, sektor pertanian terdampak paling dalam. Ekonomi Argentina anjlok 6,7% pada bulan Juni, penurunan bulanan terburuk sejak krisis keuangan global tahun 2009. Pada pembukaan perdagangan Kamis (30/8/2018), mata uang Argentina jatuh lebih dari 15% ke rekor rendah 39 peso per dollar AS karena para investor cemas tentang kemampuan Argentina dalam membayar utangnya. Jatuhnya peso itu membuat Bank Sentral Argentina mengerek suku bunga acuan dari 45% menjadi 60% pada Kamis (30/8/2018).

Janji utama kampanye Macri untuk menekan kemiskinan hingga nol dan menciptakan pekerjaan berkualitas untuk Argentina menjadi sorotan. Macri mengakui awal bulan ini bahwa kemiskinan kemungkinan meningkat karena inflasi dan kemerosotan ekonomi, sementara jumlah pekerja yang terdaftar telah mulai menurun dari puncaknya pada bulan Desember 2017. Sebagai bagian dari ikrar untuk memangkas defisit anggaran di bawah kesepakatan IMF, Pemerintah berencana untuk mengurangi belanja infrastruktur. Defisit anggaran yang berdampak banyaknya lapangan pekerjaan yang hilang, kini menjadi masalah ketika Macri bersiap untuk maju lagi pada 2019.

Kini, setelah tujuh hari berturut-turut peso Argentina turun jatuh, Presiden Argentina Mauricio Macri (Rabu, 29/8/2018), memutuskan membuat pidato istimewa untuk meyakinkan pasar bahwa Argentina tidak kesulitan membayar utangnya. Dalam pidato selama dua menit di televisi, Macri juga mengumumkan kesepakatan dengan Dana Moneter Internasional (IMF) untuk mempercepat pencairan pinjaman sebesar U$ 50 miliar. Sayangnya, pengumuman itu malah menguatkan sinyal tentang kemampuan Argentina untuk membiayai dirinya sendiri dan semakin mendorong penurunan kurs peso. Walau, IMF tak segera merespon pengumuman Macri itu, pada akhirnya IMF menyatakan sedang mempertimbangkan mempercepat pembayaran karena kondisi pasar yang buruk.

Seorang pejabat senior Kementerian Keuangan Argentina mengatakan (Reuters), Macri telah berbicara dengan para pemimpin negara-negara pemegang saham utama IMF pada Selasa lalu (28/8/2018), sebelum ia berpidato di televisi. Argentina bergegas mengumumkan pengumuman itu setelah beberapa hari menghabiskan banyak cadangan devisa namun tetap gagal menstabilkan peso. Apa yang Presiden inginkan adalah untuk memberikan pesan yang meyakinkan di pasar terbuka bahwa perjanjian itu dilakukan.

Analis dan investor menilai, pengumuman ceroboh itu merupakan serangkaian kegagalan komunikasi dan janji-janji yang telah merusak kredibilitas pembuat kebijakan Argentina, menghancurkan kepercayaan pasar pada kemampuan pemerintah untuk membalikkan ekonomi yang dilanda inflasi.

Pada bulan Juni 2018, IMF telah mencairkan pinjaman senilai US$ 15 miliar, dengan rencana untuk mencairkan sisanya jika Argentina memenuhi target untuk mengurangi defisit fiskal. Namun, kesepakatan itu tidak mencakup semua kebutuhan keuangan Argentina. Negara ini masih perlu mengumpulkan dana US$ 8 miliar dari pasar pada 2019.

Pesan yang membingungkan dari Pemerintah Argentina dalam segala hal, mulai dari kenaikan pajak, kenaikan suku bunga, dan independensi bank sentral telah merusak kepercayaan investor pada Macri.
Bagi beberapa orang, pidato Macri yang disiarkan Rabu lalu adalah langkah yang terlalu jauh.

Jorge Mariscal, Kepala Investasi Pasar Negara Berkembang UBS Wealth Management mengatakan pesan itu ditujukan kepada orang-orang yang salah. Pada pidato yang disiarkan secara nasional itu, tampaknya telah muncul situasi darurat sehingga Argentina harus kembali meminta bantuan lebih banyak.

Bagaimana krisis Kehancuran Ekonomi Argentina Dimulai?

Argentina memiliki sejarah panjang krisis keuangan dan telah gagal bayar dua kali, termasuk selama krisis ekonomi 2001-2002. Gagal bayar utang menjerumuskan jutaan warga Argentina ke dalam kemiskinan.

Ketika seorang konservatif yang ramah bisnis,  Mauricio Macri terpilih sebagai presiden Argentina pada Oktober 2015, ia berjanji untuk menghidupkan kembali ekonomi Argentina dan akan mencapai "nol kemiskinan".  Pengharapannya tinggi  untuk menempatkan ekonomi negara Amerika Selatan itu pada jalur yang stabil. Tetapi kurang dari tiga tahun kemudian, ia secara tak terduga mulai meminta pembebasan awal pinjaman dari Dana Moneter Internasional (IMF). Apa yang salah?

Nyatanya, Pemerintah Presiden Macri belum mampu menurunkan inflasi, yang merupakan yang tertinggi di antara negara-negara G20. Peso Argentina telah kehilangan lebih dari 40% nilainya terhadap dolar AS tahun ini dan inflasi semakin liar. Kehidupan sehari-hari semakin mahal untuk orang Argentina, karena harga barang dan jasa yang masih berhubungan erat dengan dolar AS. Dia gagal untuk memberlakukan reformasi ekonomi yang dijanjikan IMF, yaitu untuk membatasi belanja publik dan pinjaman. Dan kombinasi antara inflasi spiral dan pemotongan belanja publik berarti upah tidak sejalan dengan harga, membuat kebanyakan orang lebih miskin.

Sebelumnya, Argentina telah dilanda masalah ekonomi selama bertahun-tahun tetapi ledakan komoditas dalam beberapa dekade terakhir membantu negara itu membayar kembali uang yang dipinjamkan IMF. Itu menghapus seluruh utangnya ke organisasi multilateral pada tahun 2007.

Ekonomi Argentina mulai stabil di bawah Presiden Néstor Kirchner, yang memerintah dari 2003 hingga 2007, tetapi kembali terguncang lagi di bawah pemerintahan istri dan penerusnya, Cristina Fernández de Kirchner. Pemerintahannya, yang berkuasa mulai 2007 hingga 2015, meningkatkan belanja publik, perusahaan-perusahaan yang dinasionalisasi dan mensubsidi banyak barang-barang kehidupan sehari-hari mulai dari utilitas hingga transmisi sepak bola di televisi. Yang lebih krusial adalah pengendalian pemerintah atas nilai tukar, yang menciptakan segala macam masalah praktis, seperti menimbulkan pasar gelap untuk dolar dan harga yang sangat terdistorsi.

Apa yang dijanjikan Presiden Macri?
Dengan janji akan mengakhiri semua distorsi dan mengembalikan Argentina ke ekonomi yang berorientasi pasar di mana pasokan dan permintaan, bukan negara, akan menentukan harga, Mr Macri terpilih menjadi nahkoda. Pada awal pemerintahannya, ia mengakhiri kontrol modal dan memulai kampanye global untuk memperbaiki reputasi Argentina dengan investor asing. Dia juga berjanji untuk menurunkan inflasi, yang melayang sekitar 40% per tahun, dengan membatasi belanja publik.

Hari-hari selanjutnya, Pemerintah Argentina bersikeras bahwa masalahnya terletak pada likuiditas (kurangnya uang tunai) dan bukan dengan solvabilitas (kemampuannya untuk memenuhi kewajiban keuangannya). Pada bulan Mei 2018, Presiden Macri meminta bantuan Christine Lagarde pimpinan IMF, dengan alasan bahwa dana yang berbasis di Washington itu, merupakan sumber pembiayaan termurah yang tersedia. Argumennya mengatakan bahwa dengan pinjaman dari IMF, Argentina akan dapat melakukan intervensi di pasar mata uang lebih lama dan juga melunasi obligasi yang datang untuk pembayaran.

Pada saat itu, Presiden Macri mengatakan dia tidak berencana untuk menggunakan pinjaman $ 50bn (£ 37.2bn) dari IMF kecuali untuk meningkatkan cadangan negara. Tetapi dengan kemerosotan peso yang jatuh lebih jauh dan terpaan hasil panen kedelai dan jagung yang buruk, ekonomi terus terpuruk. Pada Juni 2018, ekonomi turun 6,7%, kemerosotan terburuknya sejak 2009. Sehingga, dengan keyakinan bahwa pemulihan Argentina terkikis, Presiden Macri pada 29 Agustus secara tak terduga meminta pembebasan awal pinjaman IMF.

Ketua IMF Christine Lagarde mengatakan, dana itu siap untuk membantu Argentina tetapi berita tentang permintaan bantuan awal menyebabkan peso turun lebih dari 7%, suatu penurunan terbesar sejak mata uang itu mengambang.

Masyarakat Argentina menyadari nilai mata uang mereka merosot. Mendatangi IMF adalah langkah yang paling tidak disukai yang dapat dilakukan seorang presiden di Argentina, di mana organisasi itu secara luas dibenci dan dipersalahkan atas keruntuhan ekonomi tahun 2001. Namun, secara umum, masyarakat Argentina tidak cepat panik, karena mereka telah melalui begitu banyak gejolak ekonomi di masa lalu.

Sebagian ada orang-orang yang menyatakan keprihatinan serius, terutama mereka yang berasal dari generasi yang lebih tua yang hidup melalui krisis ekonomi Argentina tahun 2001 ketika pemerintah gagal membayar utang dan sistem perbankan sebagian besar lumpuh. Ketika itu, pengaruhnya terhadap orang-orang Argentina adalah menghancurkan kemakmuran banyak orang yang susah payah diraih dengan cepat menghilang.

Mereka yang mengalami, takut akan kembalinya ‘corralito’ (pagar cincin), istilah Spanyol yang disebutkan atas pembatasan pemerintah untuk mencegah bank berjalan, yang diberlakukan pada tahun 2001. Di bawah batasan corralito, yang berlangsung selama satu tahun, orang tidak dapat dengan bebas menarik uang dari rekening mereka, membuat hidup sangat sulit bagi orang Argentina biasa.

KETIKA secara tak terduga terpilih sebagai presiden Argentina pada tahun 2015, Mauricio Macri menghadapi tugas yang sesederhana berjalan di atas ombak Iguazu saat memanggang steak. Pendahulunya, Cristina Fernández de Kirchner, telah mewariskan ekonomi make-believe. Inflasi 30-40% setahun secara resmi ditutup-tutupi. Peso dinilai terlalu tinggi, ekspor dikenai pajak dan banyak impor dilarang. Pemerintah menyediakan energi dan transportasi hampir gratis. Defisit fiskal yang dihasilkan dibiayai oleh bank sentral, dengan mencetak uang hingga 5% dari PDB. Di negara yang mengalami trauma akibat guncangan ekonomi di masa lalu, kala itu Macri berjanji untuk meluruskan semua itu secara bertahap.

Memang, Dia telah melakukan pekerjaan yang cukup bagus. Ekonomi tumbuh pada tingkat tahunan sekitar 3% selama 18 bulan terakhir, bahkan ketika pemerintah telah mengakhiri sebagian besar distorsi Fernández. Secara bertahap telah memangkas defisit fiskal, sebagian dengan menaikkan harga energi dan transportasi. Bank sentral hanya mengedarkan uang senilai 1% dari PDB. Pemerintah telah membeli waktunya sendiri dengan menerbitkan utang.

Masalahnya adalah bahwa menstabilkan ekonomi memakan waktu lebih lama dari yang diharapkan pemerintah dan para investor menjadi lebih enggan untuk memberikan pinjaman kepada Argentina. Ini pertama kali menjadi jelas pada bulan Desember 2017, ketika pemerintah mengubah target inflasi untuk tahun dari 12% menjadi 15%. Menunda dari 2019 hingga 2020 tujuannya mengurangi inflasi hingga 5%. Target awal ditetapkan pada 2016 di tengah banyak ketidakpastian. Yang baru seharusnya lebih realistis. Meski begitu, target tahun 2018 ini tidak mungkin dipenuhi. Inflasi telah berjalan pada tingkat 25% selama 12 bulan terakhir, dan konsensus pasar adalah bahwa itu akan mengakhiri tahun pada 20%.

Adil atau tidak, perubahan target itu merugikan kredibilitas bank sentral. Itu datang ketika kenaikan suku bunga di Amerika Serikat mendorong investor untuk menarik uang dari aset berisiko. Penyebaran pada obligasi Argentina (premium atas hasil tagihan Treasury Amerika Serikat) telah meningkat dari 3,4% menjadi 4,2% tahun 2018, dan peso telah terdepresiasi dengan pasti. Pemerintah menanggapi dengan mengatakan bahwa akan meningkatkan $ 8 miliar di dalam negeri yang masih perlu menutupi defisit tahun ini.

Namun demikian, pada minggu terakhir bulan April 2018, uang membanjiri Argentina. Setelah bank sentral menghabiskan $ 4.3bn dalam lima hari untuk menopang peso, pada tanggal 26 April secara tak terduga mendongkrak tingkat bunga minimumnya sebesar tiga poin persentase, menjadi 30,25%. Minggu ini peso terus jatuh; kenaikan suku bunga lebih lanjut mungkin diperlukan. Itulah fakta kehidupan politik : Argentina lebih khawatir atas harga dolar daripada lonjakan inflasi. Itulah mengapa dalam beberapa dekade terakhir, peso sering dinilai terlalu tinggi, sehingga membunuh daya saing banyak bisnis dan menghambat ekspor negara. Bahkan hal itu, tidak membantu dampak kekeringan yang parah tahun ini, yang telah memangkas ekspor kedelai dan jagung. Peso yang lebih lemah akan mengekang defisit akun saat ini, yang telah melebar menjadi 5% dari PDB. Tetapi itu akan menambah biaya pembayaran utang luar negeri pemerintah, dan dalam jangka pendek akan meningkatkan inflasi.

Pemerintah sedang mencoba untuk mengendalikan inflasi sementara juga memangkas defisit fiskal dan menjaga pertumbuhan ekonomi. Melakukan ketiga hal sekaligus itu sulit. Misalnya, penghapusan subsidi energi dan transportasi sangat penting untuk mengurangi defisit fiskal. Tetapi pengendalian kenaikan harga akan menambahkan delapan poin ke inflasi tahun lalu. Dan kenaikan suku bunga dapat mengurangi pertumbuhan serta inflasi. Kenaikan harga energi dan transportasi telah menekan kelas menengah dengan keras (kaum miskin sebagian besar dilindungi). Itu telah memengaruhi peringkat pengesahan Mr Macri, yang berada di sekitar 40%, terendah sejak dia terpilih.

Keributan ketidakpuasan mulai mengkhawatirkan mitra koalisinya. Kekhawatiran terbesar adalah bahwa ekspektasi inflasi yang sangat tinggi akan membuat inflasi tidak jatuh, dan hanya resesi yang dapat menurunkannya ke tingkat target. Kenaikan harga yang diatur di bulan April diharapkan menjadi salah satu yang terakhir. Pejabat yakin bahwa inflasi sekarang akan mulai surut. Mereka juga cenderung mencoba menenangkan investor dengan memangkas belanja non-esensial untuk menurunkan defisit fiskal primer (yaitu, sebelum pembayaran bunga) di bawah target tahun ini sebesar 3,2% dari PDB. Bahkan jika ekonomi melambat, perhitungan mereka adalah pertumbuhan ekonomi dan nilai riil upah akan naik lagi tahun depan menjelang pemilihan presiden pada bulan Oktober.

Mereka mungkin benar, dan Mr Macri masih memiliki peluang bagus untuk memenangkan masa jabatan kedua. Tapi ini adalah hal yang lebih dekat daripada yang terlihat beberapa bulan yang lalu. Belum lama ini, Presiden Argentina Mauricio Macri tidak dapat meninggalkan halaman depan negara - untuk semua alasan yang salah. Dari bulan April hingga Juni, dia menghadapi kritik pedas ketika mata uang Argentina jatuh, pertumbuhan tertekan dan inflasi melonjak. Cakupan semakin memburuk ketika Macri pada akhirnya mencari bantuan dari Dana Moneter Internasional, sebuah lembaga yang dituduh oleh Argentina dalang krisis ekonomi 2001 di negara itu. Dibalik semua itu, koalisi politik Macri, Cambiemos, berada di bawah pengawasan atas dugaan pembiayaan kampanye ilegal.

Derasnya berita buruk seputar Macri tidak ada lagi dari surat kabar lokal, karena malah berfokus pada penyelidikan korupsi yang meluas seputar musuh politik utama Macri dan perdebatan sengit tentang legalisasi aborsi. Rating dukungan atas Macri telah stabil untuk saat ini. Musuh lama Macri dan pendahulunya Mantan Presiden Cristina Fernandez de Kirchner menjadi pusat dugaan korupsi.

"Semua subyek yang memaksa orang untuk berpikir tentang hal-hal lain di luar perekonomian, bekerja untuk kepentingan pemerintah. Tetapi semua masalah ekonomi jauh lebih menentukan pandangan Argentina tentang pemerintah," kata Federico Aurelio, direktur perusahaan konsultan Aresco.

SUMBER BACAAN :

No comments:

Post a Comment

Saran-Kritik-Komentar Anda sangat bermanfaat.
Terima Kasih Telah Bergabung.